Setahun Mengajar Daring, Inilah Suara Para Guru

oleh -3 views
daring
Salah satu kegiatan belajar dalam jaringan (daring) di Kota Bandung

BANDUNG | WALIMEDIA – Perjalanan belajar daring (dalam jaringan) atau belajar dengan sistem online sudah berjalan hampir satu tahun lebih. Ternyata bukan saja menjadi beban siswa yang tak bisa belajar secara tatap muka. Namun hal itu pun berdampak pula pada guru-guru yang mengajarnya.

Mereka harus bekerja dan butuh waktu ekstra di dalam mengerjakan semuanya. Tidak mudah memang, namun mereka tetap akan memenuhi tugas-tugas itu secara baik.

Menurut Wawang Kurniawangsih, guru Ekonomi di Sekolah Menengah tingkat Atas (SMA) Mutiara 2 Kota Bandung sistem pembelajaran daring ini memang bukan sistem yang ideal jika tidak melihat kondisi pandemik yang terjadi. Secara ideal memang belajar tatap muka yang paling efektif, karena bisa terjadi pembelajaran secara efektif dari guru kepada murid.

Bagi Wawang, belajar daring jelas bebannya cukup berat. Selain siswa dituntut memiliki gadget yang dibutuhkan juga teknik pembelajarannya pun mesti terkondisikan secara baik.

Siswa bukan saja mesti paham terhadap teknologinya, melainkan juga bagaimana mereka pun bisa belajar secara baik tanpa harus tertinggal pelajaran. Sebab, kenyataannya banyak siswa yang mengerjakan tugas terlambat hingga harus menunggu sampai malam.

“Jika ditanya apa ingin segera belajar tatap muka. Jawaban semua guru pasti iya. Namun persoalannya apa semuanya telah siap dengan menerapkan protokol kesehatan yang telah ditetapkan Pemerintah ? Guru-guru kan telah divaksin mungkin aman namun pertanyaannya apakah siswanya dijamin aman. Terus terang saya juga ingin segera belajar tatap muka namun ya itu tadi semuanya harus serba aman agar pelaksanaan pembelajaran tatap muka bisa dilaksanakan. Kepada siswa yang kini sedang belajar daring kalian bisa melek teknologi dan teruslah belajar secara baik sebelum pembelajaran tatap uka dapat dilansungkan,” ujarnya saat dihubungi WMOL (26/4).

Senada dengan Wawang, Muhamad Iqbal Wahyu, guru Bahasa Indonesia di SMK Yadika Soreang, Kabupaten Bandung merasa kehilangan momentum pembelajaran secara langsung karena harus dilaksanakan secara jarak jauh sehingga terjadi hilangnya sentuhan karakter dari seorang guru terhadap siswa. Pembelajaran daring sendiri menurutnya sering terkendala dengan kuota internet, Maka untuk menyiasatinya guru membuat pelajaran luring seperti mengirim video pembelajaran secara offline yang tidak menggunakan kuota.

Mengenai pembelajaran tatap muka Iqbal sangat berharap dengan para pengajar lainnya dapat terealisasi secepatnya. Dengan guru-guru sudah banyak yang divaksin hal itu tandanya persiapan pembelajaran tatap muka tampaknya siap untuk dilakukan.

“Terus terang dibanding pembelajaran daring, pembelajaran tatap muka jelas lebih enak karena bisa berinteraksi langsung dengan siswa karenanya saya tidak memiliki persiapan secara khusus saya hanya menyiapkan perangkat pembelajaran yang sudah diperbaharui agar siswa tidak bosan ketika menerima materi ajar,” terang Iqbal.

Sementara itu, Angga Gumbira Hidayat, guru Geografi di SMA Pasundan 7 Kota Bandung menegaskan setelah setahun tidak mengajar tatap muka ia sangat rindu mengajar di depan murid-muridnya karena ada kepuasan tersendiri jika mengajar di kelas dengan segala romantikanya. Angga berusaha membuat kreativitas agar pembelajaran daringnya menarik siswa dan membuat semangat m ereka tetap belajar walaupun nharus belajar di rumah. Tentunya ia pun berharap pandemic ini segera berakhir agar bisa segera melaksanakan pembelajaran tatap muka.

“Saya memberikan kusioner kepada siswa. Selama tiga bulan pertama mereka begitu nyaman dengan system pembelajaran daring karena menurut mereka lebih santai dan tugasnya ringan namun setelah berjalan enam bulan mereka mulai mengeluh karena jenuh dan membosankan. Jangan para siswa para guru pun mengalami seperti itu. Moga saja pembelajaran secara tatap muka bisa dilaksanakan dalam waktu dekat ini dengan tetap menggunakan protokol Kesehatan,” kata Angga kepada Walimedia saat dihubungi via telepon genggamnya.

Tentunya para guru pun sangat berharap jika pembelajaran tatap muka dapat segera dilaksanakan yang tentunya tetap menggunakan protokol kesehatan ketat agar tidak terjadi penyebaran covid 19. Semuanya sepakat seperti itu dan semuanya mnyatakan siap karena ketiganya telah divaksin sebagai syarat agar pembelajaran tatap muka bisa dilakukan.(deffy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.