Menjaga Generasi Emas Pembangun Peradaban Mulia

oleh -63 views
ilustrasi
tawati
Tawati

Untuk menciptakan generasi emas Indonesia pada tahun 2045 mendatang, Ketua Komisi I DPRD Jabar Bedi Budiman menekankan pentingnya penerapan nilai-nilai Pancasila dalam giat pembelajaran terutama di pendidikan tingkat menengah.

“Kita memiliki satu gambaran mengoperasionalkan pembudayaan Pancasila ini bisa diterapkan di jenjang pendidikan menengah,” kata Bedi melalui keterangannya di Kabupaten Bandung, Kamis (17/6), sebagaimana dilansir kumparan news (18/6/2021).

Sesungguhnya ide moderat adalah bagian dari rangkaian proses sekularisasi pemikiran Islam ke tengah-tengah umat, yang diberi warna baru. Ide ini menyerukan semua agama sama dan menyerukan untuk membangun Islam inklusif yang bersifat terbuka, toleran terhadap ajaran agama lain, menyusupkan paham pluralisme yang memandang semua agama benar.

Saat ini, berbagai upaya memperkuat moderasi pada generasi terus dilakukan. Penanaman moderasi pada generasi penerus bangsa ini tentu akan menjadikan mereka lebih berkiblat pada asing. Generasi muslim akan teracuni pemikirannya dengan pemikiran yang bertentangan dengan Islam. Dan tentu saja hal ini sangat berbahaya bagi umat hari ini maupun di masa yang akan datang.

Jika moderasi agama yang dimaksud adalah seperti itu, maka jelas bertentangan dengan akidah Islam. Padahal seorang muslim harus memiliki keyakinan kuat bahwa Islam lah ajaran yang benar, bahwa ajaran Islam akan mengangkat martabat manusia, ajaran Islam menyelamatkan manusia dari kejahiliahan. Hanya keimanan yang sempurna lah yang akan memberikan kebahagiaan hidup di dunia dan keselamatan kelak di akhirat.

Umat Islam wajib menyadari betapa bahayanya moderasi Islam ini, dengan pemikiran dasarnya menyamakan semua agama, artinya menjadikan semua agama benar. Berikutnya menjadikan nilai-nilai agama Islam yang datang dari Al-Khalik Al-Mudabbir disepadankan dengan agama dan aturan buatan manusia.

Allah SWT. telah menegaskan, “Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (TQS Ali ‘Imran: 19)

Dan firman-Nya, “Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (TQS Ali Imran: 85)

Ide Islam moderat ini akan menjadikan umat Islam makin jauh dari Islam. Ajaran Islam dipahami sekadar kumpulan pemikiran saja sehingga Islam pun berubah menjadi sekadar agama ruhiyah, yang dihilangkan sisi politisnya sebagai solusi seluruh aspek kehidupan.

Umat Islam pun dijauhkan dari aturan Islam dengan menerapkan sistem demokrasi kapitalisme, sistem yang diterapkan hari ini yang telah membawa umat Islam pada kehancuran, keterjajahan, dan kehinaan. Sekaligus menjauhkan kaum muslimin dari karakternya sebagai sebaik-baik umat (khairu ummah) dan pionir peradaban, sebagaimana pernah tersemat di pundak mereka selama belasan abad.

Betapa miris membayangkan kualitas masa depan generasi umat ini, jika kita biarkan mereka berada dalam cengkeraman ide moderasi. Mereka akan terus dikepung dengan ide moderasi agama melalui kurikulum di sekolah maupun lewat organisasi kepemudaan, yang akan menjauhkan identitas utamanya sebagai khairu ummah, pelanjut peradaban mulia.

Alih-alih mendapatkan pengukuhan kepribadian Islam, mereka yang ingin konsisten menerapkan agamanya dengan benar akan dituduh ekstrem dan intoleran. Karena produk pendidikan moderasi agama adalah generasi yang tidak mempertentangkan antara agama yang ada di negeri ini. Ini adalah pemahaman pluralisme beragama yang tidak hanya harus diluruskan tapi juga harus kita hilangkan hingga ke akar-akarnya.

Keberadaan masyarakat Islam, bahkan pun masyarakat Madinah yang dibangun Rasulullah SAW sebagai masyarakat yang majemuk atau plural adalah benar adanya, karena memang terdiri dari beberapa etnik Arab dan Yahudi.

Hanya saja, jika dianggap sebagai masyarakat yang menganggap semua agama sama, semua agama benar, sehingga yang diusung adalah toleransi kebablasan, jelas merupakan pembacaan yang salah. Karena masyarakat yang dibangun Rasulullah SAW adalah masyarakat yang menjadikan akidah dan hukum Islam sebagai pijakan dalam bermasyarakat.

Di sinilah sesungguhnya umat Islam harus waspada terhadap upaya musuh-musuh Islam yang berupaya menjauhkan umat Islam dari pemahaman Islam yang lurus, terlebih kaum generasi mudanya. Karena sesungguhnya, merekalah yang akan melanjutkan estafet perjuangan tegaknya Islam yang saat ini tengah kita perjuangkan.

Karena, di tangan generasi muda inilah tergenggam tanggung jawab untuk mengantarkan umat Islam kepada kebangkitan yang hakiki, yaitu tegaknya hukum-hukum Islam di muka bumi ini.

Wallahu a’lam bishshawab.

 

Ditulis oleh:Tawati, Anggota kepenulisan di Revowriter dan Writing Class With Has (WCWH)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.