Covid-19 Memapar Anak, Hal Ini Bisa Jadi Solusinya

oleh -41 views
Siti Susanti

SAAT ini Corona virus disease (Covid-19) terus memakan korban, termasuk anak hingga balita. Sehingga kewaspadaan dengan menjalani prokes (protokol kesehatan) harus terus diperhatikan. Tentunya, hati orang tua mana yang tidak akan terluka ketika anak mereka terpapar Covid-19 bahkan diantaranya meninggal dunia.

Dilansir Tempo.Co, jumlah kasus positif di Jawa Barat memang terhitung sangat tinggi, yakni 45.450 kasus. Provinsi Jabar bahkan menjadi daerah dengan kasus kematian anak akibat Covid-19 tertinggi yaitu 61 orang. Angka ini jauh di atas provinsi lain, yang jumlah kasus kematiannya di bawah 50.(30/6)

Anak adalah aset masa depan. Merekalah yang akan mengisi estafet kehidupan selanjutnya. Ia seharusnya dijaga dan dijauhkan dari kebinasaan. Namun kenyataan saat ini, jiwa manusia termasuk anak-anak tidak terjaga. Pertambahan korban akibat Covid-19 terus naik seolah tidak terbendung. Keterisian rumah sakit dikabarkan melebihi kapasitas, dan pelayanan kesehatan mengalami kolaps.

Efek lainnya akibat pandemi yang berlarut adalah tidak terjaganya proses pendidikan pada anak-anak. Kegiatan belajar daring, memiliki kelemahan. Kehadiran guru diwakili gawai, yang tentu terbatas dari segi sentuhan manusiawi. Padahal, pendidikan adab merupakan utama dan pertama bagi anak-anak, yang memerlukan sosok teladan yang akan memberi contoh pada mereka. Adapun, anggota keluarga yang dewasa jika terpapar harus mengalami isolasi, sehingga anak harus dijauhkan dari mereka. Belum lagi jika anak yang harus menjalani isolasi. Kehidupan menjadi tidak normal dan proses pendidikan berjalan tidak optimal.

Sebagai makhluk sosial, anak memerlukan interaksi dengan teman sebaya untuk bekerjasama, bergaul, bahkan berkompetisi sesama mereka. Pandemi yang berlarut menyebabkan anak sulit untuk melakukan ini semua. Pertemanan dibatasi media gawai, yang dapat berefek memberi tekanan kepada mental mereka.

Belum lagi efek negatif gawai misalnya berupa radiasi, dan tayangan-tayangan asusila yang mudah dikonsumsi anak-anak disebabkan tidak adanya pemblokiran, menambah problem yang menimpa anak.

Sebagaimana diketahui, Covid-19 berasal dari luar negeri. Jika saja sedari awal dilakukan karantina wilayah/lockdown, tentu virus dari Cina tidak akan menyebar luas. Namun, seolah setengah hati dalam penanganan pandemi, pesawat carter dari India justru diizinkan disaat tersebar wabah disana. Dan seperti yang bisa diduga, varian delta terbawa serta dan memberikan efek yang lebih berbahaya dari varian sebelumnya.

Upaya setengah hati penanganan pandemi-pun terlihat nyata dengan izin kedatangan para pekerja asing ke negeri kita.

Upaya lockdown yang disarankan para ahli tidak dilaksanakan, pemerintah mengklaim tidak memiliki dana jika harus melaksanakan langkah ini. Akibatnya, seperti yang dirasakan saat ini.

Berbagai macam upaya penanganan dilakukan dengan berbagai istilah. Namun alih-alih menghentikan pandemi, malah korban terus berjatuhan. Ini disebabkan sistem kapitalisme yang diterapkan. Sistem ini tidak memiliki konsep yang dapat menjaga jiwa dan akal anak.

Sistem kapitalisme menjadikan sekulerisme sebagai asas berbagai hal dalam mengatur kehidupan. Peraturan Tuhan dibatasi hanya dalam urusan ibadah. Adapun urusan kehidupan diserahkan kepada peraturan yang dihasilkan akal manusia yang bersifat lemah dan serba terbatas. Maka wajar jika pengaturan terkait wabah seolah bersifat uji coba dan menemui kegagalan.

Sistem kapitalisme menjadikan untung rugi sebagai pertimbangan, yang mempengaruhi kebijakan yang dikeluarkan. Sehingga wajar, dalam sistem ini jika para kapital/pemilik modal- lah yang diutamakan, yang mengakibatkan keselamatan jiwa manusia sering terabaikan.

Berbeda dengan Islam, yang menjadikan asas membangun kehidupan berdasarkan keimanan. Bagian dari keimanan adalah menjadikan Allah SWT sebagai Pencipta sekaligus juga sebagai Pengatur urusan kehidupan manusia.

Islam menjadikan keselamatan jiwa manusialah yang diutamakan. Penjagaan jiwa merupakan bagian dari maksud-maksud penerapan syariah, yang oleh ulama disebut sebagai “maqasid syariah” Berbagai macam dalil terkait penjagaan jiwa banyak ditemukan. Misalnya larangan membunuh manusia tanpa hak ( lihat Q.S.Al-Furqan Ayat 68). Terlebih lagi, larangan menghilangkan nyawa seorang mukmin tanpa hak, sebagaimana hadits Nabi SAW:
“Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibanding terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR An-Nasai, At-Turmudzi).

Adapun wabah, dapat mengantarkan hilangnya nyawa manusia. Bukan hanya satu, namun banyak manusia. Oleh karena itu, Islam sangat ketat menangani hal ini dengan memberikan solusi sebagai berikut:

1. Karantina wilayah, sebagaimana hadits Nabi SAW : “Jika kamu mendengar tentang wabah penyakit di suatu negeri, jangan masuki; dan jika wabah merebak di suatu tempat saat Anda berada di dalamnya, jangan tinggalkan tempat itu. ” (Sahih al-Bukhari)
Dengan solusi ini, wabah Shirawih pada masa Nabi SAW dan wabah Amwas pada masa khalifah Umar bin Khattab dapat dihentikan.

2. Pemisahan yang sakit dari yang sehat, sebagaimana riwayat Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah unta yang sehat dicampur dengan unta yang sakit”

3. Menjaga kebersihan
Syariat Islam mengajarkan menjaga kebersihan dan kesucian, karena ini terkait diterimanya amalan ibadah solat. Maka tidak aneh, penemuan racikan sabun modern ditemukan oleh seorang kimiawan muslim asal Persia, Abu Bakr Muhammad.

4. Pengobatan gratis
Berobat merupakan anjuran Nabi SAW, sebagaimana sabdanya: “Carilah pengobatan, hai hamba Allah, karena Allah tidak menciptakan penyakit apa pun tetapi Dia juga menciptakan dengan itu obatnya, kecuali untuk usia tua.” (Sunan Ibn Majah)

Sepanjang sejarah penerapan syariat Islam, pelayanan kesehatan merupakan bagian dari pelayanan negara kepada rakyat yang diberikan secara berkualitas dan gratis.

Adapun terkait teknis, Islam tidak mengabaikan sains dan teknologi. Bahkan, bagian dari tuntunan Islam untuk mendengarkan pendapat ahli terkait hal ini, sebagaimana firman Allah Ta’ala surat Al-Anbiya ayat 7: “Bertanyalah kepada ahli zikir”
Imam Ibnu Katsir menafsirkan ahli zikir sebagai orang yang berpengetahuan, yakni para ahli di bidangnya.

Mengaitkan dengan kondisi saat ini, tuntutan syariah berupa karantina wilayah tentu akan lebih komplek, karena virus sudah sangat menyebar. Upaya ini juga tentu memerlukan upaya dan biaya yang sangat besar. Namun, langkah ini menjadi penting untuk dilakukan agar rantai penyebaran virus terputus.

Islam menetapkan, keberadaan pemimpin masyarakat tidak lain untuk melakukan pelayanan kepada masyarakat, sebagaimana sabda Nabi SAW: “Imam/kepala negara adalah ra’in (pengurus urusan masyarakat), dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas urusan yang menjadi tanggung jawabnya”

Sehingga, upaya penanggulangan pandemi akan dilakukan secara serius dan tuntas, tanpa mempertimbangkan untung rugi. Dan dilakukan semata berharap balasan pahala dari Sang Pencipta.

Dalam sistem Islam, kemungkinan mengalami kekurangan anggaran sangat kecil. Hal ini karena sistem perekonomian berbasis baitulmal. Sumber pendapatan baitul mal bukan dari pajak atau hutang sebagaimana sistem kapitalisme, melainkan dari pos kekayaan harta milik umum (seperti sumber daya alam dan hasil pengelolaannya), pos fai dan kharaj, dan pos sedekah.

Oleh karena itu, penanganan pandemi erat kaitannya dengan kepemimpinan yang kuat, mandiri, dan berdaulat. Melalui kepemimpinan seperti inilah, pandemi dapat dituntaskan. Dan masa depan anak-anakpun terselamatkan.
“Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan baginya jalan keluar”. (Q.S. At-Talaq : 2)**

Ditulis oleh : Siti Susanti, S. Pd, Staf Pangajar Lembaga Asysyifa, Kota Bandung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.