“Batu Eon” Desa Wisata Lamajang, miliki Daya Tarik Tersendiri

Lokasi Batu Eon PLTA Cikalong esa LamaDjang Kecamatan Pangalengan Kabupatrn Bandung

Bandung – Soreang Ditengah kolam tando Harian PLTA Cikalong Desa Lamajang Kecamatan Pangalengan Kabupatrn Bandung, Terdapat sebongkah batu berukuran kerbau dewasa. Konon, batu tersebut tak bisa dihancurkan atau dipindahkan saat PLTA akan dibangun pada abad ke-19 silam. Warga sekitar menyebut batu itu dengan sebutan Batu Eon.

Lokasi Batu Eon hanya berjarak kurang lebih 1 kilometer dari Bumi Adat Cikondang, akses untuk menuju tempat milik PT Indonesia Power itu terbilang mulus untuk jalan desa. Tak banyak terlihat aktivitas warga di sekitar PLTA, hanya segelintir anak-anak yang bermain bola di samping kolam. Suara mereka memecah keheningan lewat riangnya.
Berdasarkan cerita rakyat, pada suatu masa, ada warga Lamajang bernama Pak Eon yang hendak memindahkan batu tersebut. Ia tertantang untuk memindahkan batu yang secara misterius tak bisa dipindahkan.Segala upaya dilakukan Eon untuk memindahkan batu itu, salah satunya dengan menghancurkan batu itu berkeping-keping.
Walau begitu, tak ada satu pun alat yang mampu menghancurkan batu berwarna kecoklatan itu. Tak patah arang, Eon mencoba upaya terakhir. Sebuah dinamit pun dipersiapkannya. Namun, bukannya batu yang hancur, malah Eon yang tewas akibat terkena ledakan.
Sejak itulah warga menamai batu tersebut Batu Eon, sebagai bentuk memorial. Pengelola Desa Wisata Lamajang, Ade Sukmana (47) menuturkan, cerita itu belum dapat dipastikan kebenarannya, namun kisah Eon tersebut mewarnai berdirinya monumen batu yang kini menjadi salah satu daya tarik wisata Desa Lamajang.
“Wallahualam, sulit mencari informasi yang valid mengenai kisah itu. Namun, saat PLTA diresmikan oleh Presiden Soekarno tahun 1965, Batu Eon dan monumennya sudah ada,” ujar Ade Sukmana kepada wartawan saat di kediamannya, senin, 11/9
Ade menuturkan, dari cerita sesepuh di sana, lokasi berdirinya Batu Eon dahulu, merupakan tanah pemakaman dan terkenal angker. Banyak kambing warga yang mati ketika digembalakan ke daerah itu. “Kata orang tua mah banyak jurig-nya, sebenarnya ada batu yang lebih kecil selain Batu Eon, semuanya digunakan untuk pembangunan,” ujar Ade.
Walau berada di tengah kolam, seperti pulau kecil. Jangan harap bisa menyebrang ke monumen Batu Eon, sebab pagar dengan kawat berduri siap menghadang di sepanjang kolam yang memiliki panjang lebih dari 100 meter itu. “Batu Eon, kisahnya mirip-mirip dengan legenda Batu Cinta di Situ Patenggang,” kata Ade.
Yang terlihat, Batu Eon dikelilingi rerumputan liar. Posisinya tepat di atas tembok bebatuan. “Uniknya, kata sepuh, saat membangun tembok monumen, menyusunnya dari atas ke bawah, karena tanahnya uruy kalau dibangun dari bawah ke atas, tembok roboh terus menerus,” ucapnya.
Di sekitar Desa Lamajang juga dapat ditemui PLTA Plengan dan PLTA Lamajan yang merupakan bagian dari 3 PLTA tertua yang dibangun. Pada akhir pekan atau hari libur, Batu Eon banyak dikunjungi oleh warga, terutama kawula muda.
Pepohonan dan rerumputan yang hijau serta latar pegunungan, membuat siapapun betah berlama-lama di sana. Tak aneh, bila saat-saat tersebut bermunculan pedagang untuk memanfaatkan momen tersebut.
Untuk masuk ke lokasi Batu Eon, tak perlu dipungut biaya. Namun, jangan buang sampah sembarangan, karena belum ada tempat sampah ataupun petugas kebersihan khusus. shelter atau tempat bertenduh bila hujan pun belum dibangun. “Kami dari pengelola desa wisata, akan bernegosiasi dengan PT Indonesia Power, karena di pinggiran lahan di sana terdapat lahan tidur, akan dibangun gazeebo di sana, mungkin ada wisata outbond dengan skala kecil,” ujar Ade.
Ke depannya, ia berharap PT. Indonesia Power juga bisa bersinergi dengan masyarakat Desa Lumajang, baik dalam pemberian corporate social responsibility (CSR) berupa pelatihan sumber daya manusia (SDM) untuk mengenjot pariwisata Desa Lamajang. (Tandi/F.k)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY