Sosialisasi Tentang Manfaatnya Menjadi Peserta BPJSTK

1. Ketua Komisi IX DPR RI Dede Yusup M Effendi didamping Kakarcab BPJSTK Bandung-Soekarno Hatta, Aang Supono menyerahkan secara simbolis kartu BPJSTK kepada Atlit Wushu. 2. Ketua Komisi IX DPR RI Dede Yusup M Effendi menjadi narasumber di acara sosialisasi BPJS ketenagakerjaan kepada sekitar 300 tenaga kerja bukan penerima upah di Baleendah. Sabtu, 16/9

Walimedia– Kabupaten BandungĀ  Baleendah Iman Lesmana, atlet wushu penyumbang medali emas pada ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX mengatakan, perlindungan resiko kerja bagi atlet masih sangat rendah. Berbagai resiko cedera saat berlatih atau bertanding masih ditanggung secara pribadi. Atlet wushu dari Kabupaten Bandung itu berharap agar kesehatan dan keselamatan para atlet bisa lebih diperhatikan pemerintah. Pasalnya, para atlet kerap menjadi manifrestasi dari suatu daerah dalam berbagai ajang yang diikuti.

“Frekuensi terjadinya cedera dan kecelakaan saat di arena itu terbilang sering, para atlet untuk berobat juga seringnya dibayar dengan biaya yang dikeluarkan dari kocek sendiri,” kata Iman di Gedung Warakuri Seroja, Baleendah, Sabtu (16/9).

Iman merupakan salah satu atlet dari 30 atlet yang menghadiri sosialisasi program Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan (BPJSTK). Pada sosialisasi tersebut, dihadiri oleh lebih dari 200 orang yang didominasi oleh para pelaku usaha mikor kecil dan menengah.

Ketua Komisi IX DPR RI, Dede Yusuf Macan Effendy, selaku pemateri mengatakan para atlet atau pekerja di sektor informal tak perlu khawatir lagi dengan keterjaminan keselamatannya. Pasalnya, BPJSTK bisa meng-cover kebutuhan atlet, bilamana terjadi cederam.

“Prinisip dasarnya, adalah bahwa atlet, seniman atau pekerja di bidang informal yang memiliki penghasilan dari karyanya bisa dilindungi,” kata Dede kepada wartawan usai sosialisasi.

Sebagai mantan atlet, tentunya Dede juga pernah merasakan rasanya terpuruk ketika mengalami cedera, sementara tak ada asuransi yang melindungi. Para atlet pun hanya mengandalkan pengobatan seadanya, lewat massieur (juru pijat).

“Mudah-mudahan dengan mengikuti BPJSTK ini, para atlet juga bisa terlindungi,” katanya

Dede melanjutkan, tak hanya para atlet yang bisa mengikuti BPJS Ketenagakerjaan. Para pekerja bukan penerima upah, seperti supir angkot, tukang cilok, tukang batagor bisa mengikuti program BPJSTK ini sebagai jaminan keselamatan maupun hari tua nanti. “Berbeda dengan BPJS Kesehatan, klaim BPJSTK hanya berlaku bilamana terjadi kecelakaan saat bekerja,. Fasilitas kesehatannya pun tidak melalui rujukan berjenjang, namun bisa langsung dibawa ke rumah sakit pusat,” tukasnya

Kakarcab BPJSTK Bandung-Soekarno Hatta, Aang Supono mengatakan tenaga kerja bukan penerima upah di Kabupaten Bandung jumlah terbilang banyak, namun baru sekitar 10 ribu yang terdaftar.

“Kalau dilihat dari jumlah pelaku di sektor informalnya, jumlah tersebut masih sangat kecil, kami berharap ada dukungan maksimal dari pemerintah Kabupaten Bandung melalui Dinas Tenaga Kerja untuk menggenjot kepesertaan aktif di Kabupaten Bandung,” kata Aang.

Kabid Pemasaran BPJSTK Bandung-Lodaya, Yanuar mengatakan bahwa masyarakat yang bukan termasuk penerima upah bisa mengikuti program BPJSTK dengan iuaran yang dibayarkan sebesar Rp. 36.500 perbulan.

“Iuran BPJSTK sangat terjangkau, pemerintah sudah mempertimbangkan ini matang-matang, agar BPJSTK bisa dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat, target dari nasional sebesar 40 juta dari sektor informal, di Jawa Barat sendiri baru di angka dua jutaan,” pungkasnya (TD/F.K)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY